myakbar :: sebuah catatan kecil

Kendala-Kendala Proses Migrasi Open Source Software (OSS)

leave a comment »

Setiap proses perubahan yang sifatnya mendasar pada umumnya selalu menemui berbagai kendala dan rintangan, begitu pun dengan proses migrasi OSS. Artikel ini akan mengupas tentang potensi-potensi kendala yang mungkin dihadapi pada saat melaksanakan migrasi OSS. Tentu saja bukan untuk mengurangi semangat rekan-rekan yang sedang ‘berjuang’ untuk hijrah ke OSS, tapi justru untuk mempersiapkan diri dalam mengantisipasi berbagai kendala tersebut, sehingga proses migrasi dapat berjalan lancar.

Secara garis besar terdapat dua jenis kendala dalam proses migrasi ini, yaitu kendala teknis dan kendala non-teknis.

1. Kendala Teknis

Kendala teknis adalah kendala-kendala yang berhubungan dengan permasalahan teknis dalam proses migrasi, diantaranya adalah :

a. Standard Operating Procedure (SOP)

SOP merupakan acuan bagi tim migrasi dalam melaksanakan proses migrasi. Dengan SOP ini setidaknya kita dapat mengetahui :

– Kejelasan langkah/tahapan migrasi
SOP memberikan tuntunan langkah demi langkah yang harus dilakukan dalam proses migrasi ini. Dengan demikian diharapkan tidak ada langkah atau tahapan yang terlewati oleh tim migrasi pada saat melakukan proses migrasi.

– Mengantisipasi Resiko
SOP disusun sedemikian rupa agar resiko-resiko yang mungkin terjadi dalam proses migrasi dapat di-eliminir. Idealnya, setiap langkah/tahapan dalam SOP ini haruslah dapat menutupi kemungkinan-kemungkinan suatu resiko dapat terjadi.

– Bahan Audit
SOP dapat dijadikan sebagai salah satu bahan audit proses migrasi OSS. Melalui SOP ini, kita dapat mengetahui apakah proses migrasi ini telah dilaksanakan dengan baik dan benar atau tidak.

Permasalahan yang seringkali ditemui dalam proses migrasi ini adalah :
– Tim migrasi belum memiliki SOP ; atau
– Tim migrasi memiliki SOP tapi bukanlah SOP yang baik, sehingga masih belum bisa mengurangi resiko migrasi ; atau
– Tim migrasi memiliki SOP yang baik tapi tidak dilaksanakan dengan baik.

b. Data

Resiko terbesar dalam proses migrasi ini adalah kehilangan data. Di dalam konteks migrasi OSS, data adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya dan tidak dapat tergantikan oleh apapun. Sehingga diperlukan penanganan khusus untuk menjaga agar data tersebut aman.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan data ini, diantaranya adalah :

– Peran dan Tanggungjawab Penanganan Data
Kejelasan peran dan tanggungjawab masing-masing pihak terhadap keamanan data merupakan hal yang sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman antar pihak-pihak terkait apabila suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap data tersebut, misalnya terjadi kehilangan atau kerusakan data. Kejelasan peran dan tanggungjawab ini harus dipahami bersama sebelum proses migrasi dilakukan.

Idealnya, masing-masing pihak memiliki peran dan tanggungjawab yang seimbang terhadap keamanan data ini. Misalnya, User sebagai pemilik data, mereka bertanggungjawab untuk mengamankan datanya sendiri. Sementara tim migrasi sebagai eksekutor di lapangan, mereka pun memiliki tanggung jawab untuk memastikan data-data user tidak hilang atau rusak selama proses migrasi dilaksanakan.

– Backup Data
Masing-masing pihak, baik user maupun tim migrasi harus memastikan bahwa mereka telah melakukan backup data dan memastikan pula bahwa data yang mereka backup tidak mengalami kerusakan dan data di-restore seperti sediakala.

Permasalahan yang sering terjadi adalah bahwa user atau migrasi tidak melakukan proses backup data dengan berbagai alasan, diantaranya adalah ketidaktersediaan media backup, atau besarnya data yang harus di-backup sehingga media backup yang ada tidak mencukupinya, atau alasan-alasan lainnya. Namun apapun alasan itu, backup data adalah satu-satu jaminan kita terhadap data yang ada.

c. Kompatibilitas Hardware

Proses migrasi ini adalah salah satu proses yang apabila telah diputuskan untuk dilakukan, maka proses tersebut haruslah berhasil dengan ‘sempurna’. Artinya, kita tidak bisa melakukan migrasi OSS dengan hasil yang setengah-setengah, karena bagi user hal itu tidak ada bedanya dengan ‘gatot’ alias gagal total. Misalnya, setelah proses migrasi ternyata printer user tidak dapat terdeteksi, sehingga user tidak dapat melakukan pencetakan dokumen yang biasa mereka lakukan setiap hari.

Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah :

– Inventarisasi Hardware
Proses inventarisasi hardware ini haruslah dilakukan jauh sebelum proses migrasi dilaksanakan. Hasil dari inventarisasi ini, bukan saja dapat dipergunakan untuk keperluan statistik semata, namun juga untuk mengantisipasi beragamnya hardware-hardware yang dipergunakan oleh user.

– LiveCD Testing
Beberapa distro Linux telah menyediakan versi LiveCD-nya. Dengan melakukan LiveCD testing, maka kita akan mengetahui apakah hardware-hardware yang digunakan oleh user dapat dideteksi atau tidak. Jika belum terdeteksi, maka sebaiknya proses migrasi terhadap PC tersebut di-pending sampai kita menemukan driver atau cara untuk menjalankan hardware tersebut.


d. Sistem Informasi atau Aplikasi Khusus

Sistem Informasi atau Aplikasi Khusus yang tidak bisa berjalan di atas platform Open Source menjadi kendala tersendiri dalam proses migrasi. Secara teknis mungkin hal ini dapat diantisipasi dengan menggunakan teknologi tertentu (emulator misalnya), namun bukankah hal ini tidak akan menyelesaikan permasalahan inti dari suatu proses migrasi, yaitu legalitas ?

Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan, diantaranya :

– Mencarikan Padanananya
Jika memang ada padanannya sebaiknya alternatif ini yang diambil, misalnya untuk aplikasi perkantoran padanannya adalah OpenOffice.org. Namun tentu saja harus dikaji terlebih dahulu bagaimana fungsionalitas sistem dan portabilitas datanya.

– Porting Aplikasi
Jika dengan melakukan porting aplikasi tidak akan mengurangi aspek fungsionalitas dan akan dapat menghemat biaya, maka alternatif ini layak untuk dipertimbangkan.

– Membeli Lisensi Software
Bagi Sistem Informasi atau aplikasi kritikal yang tidak ada padanannya dan biaya untuk porting aplikasi jauh berlipat ganda jika dibandingkan dengan membeli lisensi sofware-software pendukungnya, maka pembelian lisensi ini adalah pilihan terakhir yang dapat kita ambil. Tentu saja ada banyak sekali hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli lisensi ini, seperti umur aplikasi, support terhadap aplikasi, kebijakan-kebijakan pendukung, dll, jika itu semua diprediksi akan kurang dari lima tahun, menurut hemat penulis solusi yang satu ini tidak perlu kita ambil.


2. Kendala Non-Teknis

Kendala non-teknis adalah kendala-kendala yang bersifat non-teknis, tapi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses migrasi, diantaranya adalah :

a. Penolakan User

Yang dimaksud dengan penolakan user disini adalah segala upaya, baik penolakan secara tegas seperti penolakan langsung/frontal terhadap proses migrasi OSS, ataupun penolakan secara halus, seperti upaya menunda-nunda atau mempersulit proses migrasi, atau upaya-upaya tidak ko-operatif lainnya.

Penolakan secara tegas biasanya dilakukan oleh pimpinan atau oleh orang yang memiliki kewenangan lebih di organisasi tersebut. Sedangkan penolakan secara halus biasanya dilakukan oleh end-user, yaitu oleh orang-orang yang kesehariannya bekerja dengan komputer yang akan kita migrasi tersebut.

Penolakan-penolakan di atas muncul tentu saja bukan tanpa sebab. Menurut hemat penulis ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya, diantaranya adalah :

– Kurangnya Pemahaman terhadap Hak Cipta
Mungkin kedengarannya seperti lelucon, tapi berdasarkan pengalaman penulis, masih banyak teman-teman kita yang belum paham dengan baik tentang hak cipta, khususnya hak cipta suatu software. Masih banyak diantara kita yang belum tahu atau belum menyadari program komputer (software) merupakan salah satu bentuk ciptaan yang dilindungi oleh Undang-Undang. Masih banyak diantara kita yang menganggap bahwa apabila mereka telah mengeluarkan uang untuk membeli komputer, maka dianggapnya bahwa semuanya telah beres. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka beli hanyalah hardware komputernya saja tidak termasuk biaya pembelian lisensi dari semua software yang ada pada komputer tersebut. Ironis memang, tapi itulah kenyataan yang ada (setidaknya sampai tulisan ini dibuat).

– Stereotip Linux
Stigma bahwa linux itu sulit masih melekat di benak sebagian besar teman-teman yang menolak proses migrasi OSS ini. Informasi-informasi yang salah ini memperkuat penolakan terhadap proses migrasi OSS ini. Padahal dengan distro-distro modern yang ada, stigma tersebut bisa dibantahkan.

– Pro Status Quo
Setiap perubahan menuntut kita untuk belajar tentang sesuatu yang baru. Untuk sebagian kalangan, proses belajar adalah sesuatu yang hanya memberikan beban kerja tambahan saja. Ya, mungkin inilah salah satu penyebab yang membuat bangsa ini terpuruk.

Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di atas tentu saja memerlukan pendekatan yang intensif. Sosialisasi terhadap hak cipta, lisensi software, sampai sanksi-sanksi yang menanti bagi pelanggar hak cipta, perlu senantiasa digalakan oleh tim migrasi.

Kebijakan dan komitmen pimpinan perlu dituangkan dalam suatu legal formal, sehingga memiliki kekuatan yang mengikat bagi setiap unit kerja untuk mengimplementasikan migrasi ini. Produk hukum ini pun dapat dijadikan jurus pamungkas untuk menghadapi para ‘pemberontak’ migrasi OSS di unit kerja, agar mereka dapat menerima proses migrasi ini.

b. Keterbatasan Kapasitas SDM

Permasalahan klasik ini memang hampir dapat ditemui di setiap organisasi yang sedang melaksanakan migrasi OSS di lingkungannya. Keterbatasan kapasitas SDM ini dapat berupa rendahnya kualitas SDM ataupun sedikitnya jumlah SDM yang ada.

Untuk permasalahan kualitas SDM ini, sepertinya solusinya hanya ada satu, yaitu belajar. Tanpa ada proses belajar, jangan harap ada peningkatan kualitas SDM. Dan tanpa adanya SDM yang berkualitas, jangan harap proses migrasi akan berhasil.

Sedangkan untuk permasalahan kuantitas SDM, menurut hemat penulis penyelesaiannya bergantung kepada beberapa hal, seperti inisiatif pimpinan organisasi, kebijakan strategis, anggaran, dan lain-lain. Adapun alternatif model-model yang dapat diadopsi untuk menyelesaikan permasalahan yang satu ini, dapat anda simak pada artikel saya terdahulu yaitu Strategi Migrasi Open Source di Lingkungan Pemerintah Daerah, tepatnya pada bagian 1.3.2 Skenario Migrasi.

Penutup

Demikian ulasan tentang Kendala-Kendala Proses Migrasi OSS, semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda dalam mempersiapkan segala sesuatu untuk kelancaran proses migrasi ini.

Bandung, 1 Mei 2010

Written by akbar

May 1, 2010 at 11:38 am

Posted in Concepts, Open Source

Tagged with , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: